Aku menyeka keringatku. Sudah hampir 3
gang aku lewati. Tidak ada seorang pun yang peduli padaku. Yang aku dapatkan
hanyalah caci makian. Sakit hatiku. Ya Tuhan... apakah tidak ada jalan keluar
dari permasalahan ini? Aku sedih. Aku sedih! Sangat sakit hatiku. Mengapa tidak
ada yang peduli padaku?
Aku teringat sesuatu. Lisan yang
menyakitkan dari seorang anak yang tidak memiliki perasaan empati. Dengan seenaknya,
dia menyuruhku layaknya aku seorang budaknya.
“Hei nenek tua! Terlambat banget sih
datangnya! Sampah di tong sampah rumahku sudah menumpuk ini! Kalau tidak
diambil, nanti halaman rumahku kotor! Terus, kamu mau rumahku jadi kotor? Kalau
rumahku kotor, kamu mau kalau aku salahkan dirimu? Kalau kamu tidak cepat-cepat
mengambil sampahnya, akan aku laporkan kamu pada ayahku! Dia adalah seorang polisi
lho! Mau melawan lagi? Cepat sana ambil! Huh!”
Dengan langkah yang tertatih-tatih, aku
berjalan menuju rumah anak itu tanpa menjawab perkataannya. Aku ambil semua
sampah yang ada di rumahnya dengan perasaan yang amat pilu.
Seusai aku mengambil sampah yang ada di
rumahnya, aku langsung pergi. Bukannya anak itu berterima kasih, dia malah
mengejekku. Mencaci maki diriku. Aku pergi dengan wajah yang sembab. Tak mengerti
apa yang dia inginkan dariku.
Aku meneruskan perjalananku. Aku mencari
tong sampah tiap rumah, dan aku akan mengambil sampah-sampah di rumah itu. Caci
makian masih belum berakhir. Aku tiba di sebuah rumah yang mewah dan
bertingkat. Dari kelihatannya bahwa rumah tersebut milik orang kaya.
“Waah... alangkah cantiknya rumah ini. Andaikan
aku yang berada di dalam rumah tersebut...”
Namun, ketika aku mengambil sampah di
rumah tersebut, muncullah seorang ibu dengan lipstik yang sangat tebal dengan
perhiasan lainnya yang sangat mewah. Kemudian, dia menghampiriku.
“Kamu, yang suka ambil sampah itu ya? Cih,
maaf ya... nggak boleh ada yang datang ke rumah aku yang nggak selevel denganku.
Mendingan kamu pergi saja sana!” usirnya.
Sungguh tajam lisannya. Bagaikan pedang
menusuk hatiku. Begitu sedih dan sakitnya diriku. Mengapa? Mengapa tidak ada
kata-kata indah yang datang padaku? Mengapa tidak ada yang peduli padaku? Mengapa?
Mengapa?
Sampai akhirnya, aku duduk di sebuah pos
yang kecil dan sepi. Aku mengistirahatkan diri. Tiba-tiba, datanglah seorang gadis
cantik berkepang dua dengan bajunya yang lucu itu.
“Hai nenek. Bolehkah aku membantumu?”
tanya dia.
Aku kaget. Sungguh kaget. Baru pertama
kali ini, aku bertemu seorang malaikat cantik yang memintaku untuk membantu
diriku. Spontan aku langsung menjawab.
“Tentu saja boleh gadis cantik,” aku pun langsung
menggandeng tangannya dan aku pun berjalan disampingnya.
“Nenek suka diejek-ejek ya?” tanya gadis
itu.
“Iya, nenek suka diejek-ejek. Perasaan nenek
sangatlah sakit,” jawabku.
“Tenang nek, sekarang kan ada aku. Jadi,
nenek tak perlu khawatir akan diejek lagi. Karena aku, memiliki sebuah jurus
rahasia,” kata gadis itu dengan percaya diri.
“Baiklah anak. Terima kasih ya,” sekarang,
aku tak perlu khawatir akan diejek oleh orang-orang.
Aku memintanya untuk pergi ke sebuah perumahan
kecil. Dia menurut. Aku pergi ke setiap rumah-rumah untuk mencari sampah yang
dapat aku ambil.
“Nek, sini karungnya. Biar aku saja yang
bawa,” pintanya.
“Baiklah,” aku pun mengizinkannya. Kemudian,
aku pun memberikannya karung yang penuh dengan sampah itu.
“Maaf ya nak, nenek malah jadi merepotkan
dirimu,” kataku meminta maaf.
“Tak perlu meminta maaf nek. Lagipula, ini
juga keinginanku untuk membantu nenek,” jawabnya.
Kemudian, kami tiba di sebuah rumah. Tidak
besar. Tapi, rumah itu juga tidak kecil. Aku pun mengambil sampah yang ada di rumahnya.
Tiba-tiba...
“Ish! Hei nenek! Jangan sembarangan ambil
sampah orang dong!” bentak pemilik rumah tersebut.
“Hei ibu nggak tahu diri! Nenek itu kan
sudah mempunyai niat baik untuk mengambil sampah yang ada di rumahmu, kok ibu
malah memarahinya sih! Aneh!” seru gadis itu.
“Hufhh... baiklah, aku izinkan kau untuk
mengambil sampah yang ada di rumahku. Huh! Bikin kesal saja!”
“Terima kasih banyak bu,” aku pun segera
mengambil sampah yang ada di rumah nya dan segera melanjutkan perjalanan.
Telah habis waktuku untuk mengambil
sampah-sampah. Sebelum aku akan pulang kerumah, aku menyempatkan diri untuk
bertanya kepada gadis itu.
“Hai gadis cantik. Kalau boleh tahu,
siapakah namamu?”
“Maaf ya nek. Tetapi, aku tidak ingin
memberi tahu namaku. Aku tidak ingin nenek mengingat terus diriku. Karena aku
ikhlas dari hati untuk menolong nenek. Maaf ya nek...” jawab gadis itu.
“Tak masalah nak. Sudah dulu ya, nenek mau
pulang ke rumah dulu,”
“Silahkan nek. Hati-hati dijalan!”
Aku berjalan dengan tertatih-tatih menuju
rumah. Aku berharap, bahwa semua orang yang aku temui, bisa sebaik gadis itu. Gadis
yang empati, dan membela kebenaran...
TAMAT
***
Haii! Maaf banget yaa... aku sudah lama nggak menulis cerita. Aku akan usahakan minimal sebulan sekali aku menulis cerita di blog ini. Selamat membaca ya! Oh ya, ini bukan kisah asli ya!
Buat kalian yang suka cerita Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia, jangan lupa berkunjung ke blog aku bersama temanku:
www.nadeliaa.blogspot.com
Selamat membaca! Have fun! Just Enjoy The Stories!
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar